Tentang Rempah Djaya

Tentang Rempah Djaya

Pulang ke Akar Menemukan Kembali Rasa dan Tradisional

Berawal pada Juni 2019, Yoga Djaya mulai meracik rempah. Terinspirasi dari kekayaan rempah Nusantara yang sejak lama menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Kami lahir di tengah keriuhan dan kepadatan kota Yogyakarta di sebuah dapur yang cukup sederhana, karena masih menyatu dengan rumah. Lokasi kami berada di tengah kota, tepatnya berlokasi di belakang Kraton Yogyakarta. Tepatnya di kampung Suryoputran, Kalurahan Panembahan, Kecamatan Kraton. Tidak ada orang yang menyangka di dalam padatnya ruang kota kami bisa membuat racikan rempah yang nantinya akan sangat banyak membantu orang lain di masa covid.

Dari awal mula sebelum menggeluti bisnis ini memang kami telah jatuh cinta dengan rempah nusantara, perjalanan panjang pekerjaan kami membawa kami berkeliling Indonesia dan menunjukkan secara langsung betapa Indonesia kaya raya dan benar-benar memiliki harta yang tak ternilai berupa rempah-rempah. Dari Aceh hingga Papua semua masyarakat sangat terbiasa menggunakan rempah, hanya saja memang karakter jenis rempah dan banyak sedikitnya sangat tergantung di wilayah masing-masing. Misalkan hanya untuk bumbu masakkan saja, atau untuk minuman bahkan pengobatan tradisional, rata-rata menggunakan rempah yang ada disekitar. Jejak jalur perdagangan rempah juga sangat nyata menunjukkan bukti kekayaan akan rempah-rempah nusantara.

Di awal perjalanan, Yoga Djaya tidak langsung mendapat sambutan hangat. Sebelum pandemi melanda, minuman rempah belum menjadi perhatian banyak orang, terlalu sederhana bagi sebagian, terlalu kuno bagi yang lain. Rempah bukan produk yang menarik sama sekali. Produk Yoga Djaya sering kali tak dilirik, bahkan ditolak. Bukan hanya oleh pasar, tapi juga oleh teman dan lingkungan sendiri. Namun, di tengah penolakan itu, kami tetap meracik dan menjual apa yang kami yakini. Dengan sepenuh hati, dengan doa, dan dengan semangat yang tak pernah padam, kami percaya bahwa rempah adalah warisan yang layak diperjuangkan. Rempah menjadi warisan rasa Nusantara yang harus dijaga dan dilestarikan. Setiap seduhan kami hadirkan dengan harapan: agar suatu hari, rempah bukan hanya diterima, tetapi juga dicintai dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Tak jarang kami merasa asing di lingkungan sendiri, seolah rempah kehilangan tempatnya di tengah arus gaya hidup modern. Di tengah gempuran tren minuman kekinian, racikan tradisional seperti jahe, kunyit, atau temulawak dianggap ketinggalan zaman. Dari situasi itu, kami belajar bahwa merintis bukan hanya soal menjual, tapi soal meyakini. Meyakini bahwa meski jalan senyap dan tak selalu mendapat sambutan hangat, kami membawa sesuatu yang bermakna: menghidupkan kembali warisan yang nyaris dilupakan. Kepercayaan dan keyakinan itu menjadi bara semangat kami, yang terus kami nyalakan. Dengan Menoleh kebelakang dari masa sejarah Indonesia, dimana rempah menjadi magnet terbesar yang akhirnya menarik banyak negara untuk datang melakukan perdagangan dan bahkan ingin menguasai Negara yang kaya akan rempah-rempah ini. Mereka paham dan sadar akan manfaat yang luar biasa dan harga yang sangat baik di tingkat internasional. Inilah harta yang harus diperjuangkan “emas hijau” Indonesia.

Namun di negara kita sendiri, kondisi ini belum banyak berubah, rempah masih belum menjadi pilihan utama. Masih menjadi komoditi yang menjadi anak tiri, tidak punya tenpat yang setara seperti kopi, coklat atau komoditi lain. Dengan Situasi yang kurang bersahabat ini, Kami tetap berpegang teguh untuk mengolah rempah dan menjadikan pilihan untuk bisnis kami. Kami masih dipenuhi dengan semangat yang sama, bahwa rempah sangat bermanfaat dan perlu dilestarikan. Tidak sekedar untuk membawa menjadi minuman sehat, tetapi juga membalutnya dalam kebudayaan yang mesti dilestarikan.

Saat awal di mana kami belum mengetahui seluk beluk rempah, kami sangat kesulitan. Karena referensi yang cukup minim. Tapi kami berusaha terus mencari celah, melakukan pengamatan dan riset kecil-kecilan di sela aktivitas harian. Hampir setiap hari kami menyusuri pasar-pasar tradisional, berbincang dengan para penjual rempah dan pelaku usaha minuman rempah kemasan. Dari situ, kami mulai melihat pola: Penjual rempah biasanya hanya menjual rempah segar saja, sebagian pembelinya adalah rumah makan yang memang menggunakan rempah tiap hari untuk menjadi bumbu masakkannya. Sedangkan untuk minuman rempah sebagian besar hanya menjual satu jenis produk, yaitu wedang uwuh. Hampir tidak ada variasi lain yang ditawarkan. Jarang yang menjual bentuk celup, maupun instan seperti saat ini. Temuan sederhana ini menjadi bahan bakar bagi kami, bahwa masih ada ruang yang bisa diisi, bahwa rempah memiliki potensi lebih besar jika diolah dengan kreativitas dan inovasi minuman lain.

Beberapa bulan setelahnya, dunia berubah drastis karena hantaman pandemi dan Tentunya juga mengubah banyak hal. Mulai dari kebiasaan, cara pandang tentang kesehatan dan juga pilihan untuk minuman dan asupan. Di tengah kecemasan global, rempah mulai dilirik kembali, bukan sebagai warisan masa lalu, tapi sebagai harapan hidup ditengah ketakutan akan kesehatan yang alami. Di masa-masa itu, berbagai riset dari para profesor dan ahli kesehatan mulai bermunculan, menunjukkan bahwa rempah memiliki khasiat untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Jahe, kunyit, sereh, temulawak semuanya menjadi sorotan sebagai alternatif alami untuk membentengi diri dari virus. Apa yang dulu dianggap kuno, kini dicari. Bagi kami di Yoga Djaya, ini bukan sekadar perubahan tren, tapi momen validasi yang menyentuh: bahwa keyakinan yang kami pelihara sejak awal mulai menemukan tempatnya di hati masyarakat.

Dari ruang-ruang sempit dan situasi yang tak pasti itulah, Yoga Djaya mulai menempa diri meramu bukan hanya minuman, tapi juga harapan. Rempah yang awalnya tidak diminati perlahan menjadi jembatan harapan yang menguatkan banyak orang di tengah kegelisahan dan kekhawatiran. Kala dunia perlahan tertutup oleh ketidakpastian, Yoga Djaya justru menemukan jalannya. Kami menyajikan kehangatan dalam setiap seduhan, dan menjadi teman bertahan bagi banyak orang yang mencari kekuatan di balik secangkir minuman tradisional. Pandemi bukanlah titik henti, tapi awal bagi Yoga Djaya untuk terus bertumbuh, menjangkau lebih luas, dan meracik makna baru tentang pulih, dan harapan baru tentang hidup, warisan kebudayaan dan kesehatan yang alami.

Tak disangka, masa yang penuh ketidakpastian justru membawa angin perubahan bagi Yoga Djaya. Perlahan, pesanan mulai berdatangan, tak hanya dari sekitar Yogyakarta, tapi juga dari luar kota seperti Jakarta, Bogor, Surabaya, Bandung, bahkan Sumatera. Dalam waktu singkat, rempah yang dulu sepi peminat tiba-tiba diburu banyak orang. Seolah semua orang berlomba-lomba untuk mendapatkannya, mencari kehangatan dan perlindungan dalam setiap seduhan. Stok yang kami miliki tak jarang habis bahkan kami bingung bagaimana biar semua pesanan bisa kami penuhi. Rempah yang dijual di pasar kondisinya tidak terlalu bagus, karena mereka menjual apapun kondisinya kepada konsumen, karena permintaan yang tinggi. Yang belum siap panen alias masih mudapun dijual dengan harga tinggi, orang kurang memahami kualitas rempah dan itu banyak ditabrak oleh spekulan karena hanya mengejar omset penjualan saja. Dalam kondisi itu, kami sempat merasa ambigu juga karena kami tidak ingin mengikuti arus yang yang menjual barang dari sisi kuantitas tanpa memperhatikan kualitas. Hanya mengejar omset dan menjual tidak dengan hati. Konsumen rela mengantri dari pagi sebelum pasar buka, hanya untuk mendapatkan rempah seperti layaknya masyarakat seperti antri sembako. Situasi ini menjadi semacam pilihan yang dilematis, disisi lain permintaan tinggi, harga berapapun dibeli karena mereka membutuhkan. Disisi lain ketika menjual tanpa hati, konusmen hanya mendapatkan bentuk yang diharapkan tetapi tidak manfaat yang dibutuhkan.

Kami sempat berhenti sejenak, untuk memantabkan diri meyakinkan apa yang kami jual adalah benar dan tidak hanya mencari untung sesaat karena kebutuhan masyarakat tinggi. Ada ketakutan dari kami sendiri, jika kami menjadi penjual yang “ Jahat” hanya mengejar untung sedangkan masyarakat mengalami hal yang benar-benar menakutkan. Kami mencoba terus mencari informasi baik itu dari petani langsung, pengepul maupun penjual di pasar, kami sisir mereka yang benar-benar masih menjual dengan hati, sehingga tetap menyediakan bahan yang baik yang tentunya juga menjadi sumber kami bisa membuat produk yang baik dan bisa bergua saat dikonsumsi. Kami percaya masih banyak penjual bahan baku yang juga berjualan dengan hati yang bersih dan semangat yang sama untuk membantu sesama. Dari proses ini kami bertemu kelompok wanita Tani (KWT) di daerah Nitiprayan, kami beberapa kali juga membeli bahan baku dari mereka supaya ini menjadi ekosistem yang saling menghidupi dan menguntungkan. Kami juga membantu mereka dengan mengadakan pelatihan bagaimana mengolah rempah kering, dengan harapan jika produksi kami kurang dan membutuhkan banyak bahan kami bisa mengambil dari mereka karena produk memiliki standar produk yang sama. Namun kendala juga pasti hadir, ternyata untuk KWT tidak bisa konsisten untuk menanam atau produksi. Kami tetap membeli apa yang mereka hasilkan jika memang ada. Kami tetap mencari dari petani langsung melalui komunitas misal dari Gunung kidul dan Kulon Progo.

Dari kondisi wabah covid membuat permintaan rempah menjadi luar biasa tinggi, meskipun juga banyak tantangan yang harus kami hadapi. Kondisi demikian membuat kami merasa terharu sekaligus terpacu bukan semata karena lonjakan pesanan, tapi karena akhirnya rempah kembali hadir di tengah kehidupan, bukan hanya sebagai minuman, tapi sebagai penjaga kesehatan, dan simbol perlawanan terhadap ketakutan. Masyarakat mulai percaya akan kehadiran rempah, dan mereka merasa tenang saat memiliki rempah dirumah. Ini semacam perjalanan spiritul bagi kami, bahwa ditengah hempasan peristiwa yang menakutkan ada hal yang indah, yang Tuhan bangun melalui peristiwa “acaman” menjadi “harapan”. Rempah perlahan menjadi primadona dan mendapat tempat yang hangat di masyarakat.

Dari situasi itu, kami belajar satu hal penting: ketika rasa takut akan kematian begitu nyata, orang akan berupaya melindungi apa yang paling berarti bagi mereka baik keluarga dan orang-orang terdekat yang ada disekitar mereka. Banyak dari pelanggan kami saat itu membeli dalam jumlah besar, bukan untuk ditimbun, tapi untuk dibagikan. Mereka tak hanya memesan untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang tua, kerabat di kota lain, hingga tetangga yang kesulitan. Di tengah krisis, kami justru menyaksikan wujud solidaritas yang tulus, dibungkus dalam paket-paket rempah yang dikirim ke berbagai penjuru. Dan di sanalah kami semakin yakin: rempah bukan sekadar produk, tapi medium cinta dan kepedulian dalam bentuk yang paling sederhana, hangat, alami, dan menguatkan.

Hiruk-pikuk pandemi tidak hanya membawa lonjakan permintaan, tapi juga mengajari kami untuk cepat beradaptasi. Di tengah tingginya kebutuhan pasar, kami dihadapkan pada tantangan besar dalam proses produksi. Pergeseran tantangan dari bagaimana produk bisa diterima, menjadi bagaimana membuat produk yang cepat dan tetap berkualitas. Situasi ini menempa kami menjadi harus menjadi semakin kuat. Proses ini memberikan ruang bagi kami untuk belajar mencari solusi yang cepat dan tepat. Disinilah bagian kawah candradimuka, kami digodog menjadi pengusaha tangguh dan tanggap dari banyak situasi.

Tidak hanya tantangan mencari bahan yang berkualitas, tetapi juga mengenai proses produksi. Di awal memulai bisnis ini, pengeringan rempah dilakukan secara alami menggunakan sinar matahari. Kami menggunakan cara tradisional yang kami percayai untuk menjaga keaslian rasa dan kualitas. Namun situasi saat itu memaksa kami berpikir lebih strategis. Saat itu juga musim hujan, sinar matahari tidak hadir setiap saat, dan kami mulai kesulitan menyediakan bahan baku. Hal ini berimbas kami tidak bisa memenuhi kebutuhan konsumen dan tidak bisa menyediakan secara optimal untuk kualitas bahan. Seringkali dengan cuaca yang tidak stabil yang kadang panas kadang hujan membuat rempah kering dipermukaan tetapi ternyata masih basah didalam sehingga bahan baku lekas berjamur dan kehilangan aroma khasnya. Kondisi itu membuat kami sadar, bahwa kami tidak bisa terus bergantung pada alam semata. Harus ada inovasi untuk mengatasi masalah yang kai hadapi, maka dengan berbagai pertimbangan, kami memutuskan beralih ke pengeringan dengan mesin. Bukan Pilihan yang mudah pada saat itu, namun perlu sebuah langkah yang harus dibuat. Hal ini kami lakukan untuk menjaga kualitas bahan baku, dan tentunya memastikan konsistensi produksi di tengah cuaca yang tak bisa diprediksi.

Saat memutuskan beralih ke pengeringan mesin, kami mencoba mencari informasi mengenai harga mesin pengering di pasaran. Hasilnya cukup mengejutkan karena harganya ternyata mahal bagi kami dan tidak terjangkau pada saat itu. Kami mencari informasi kembali untuk bebrabgai kemungkinan yang bisa kami lakukan dari teman- teman dan komunitas. Akhirnya kami mendapatkan informasi bahwa ada teman yang memiliki mesin pengering buah dan sayur sehingga kami menggali lebih dalam mengenai informasi tersebut. Dari masalah yang kami dapatkan, akhirnya kami memilih untuk mencari alternatif dengan menyewa mesin pengering terlebih dahulu. Kebetulan kami dikenalkan pada teman yang memiliki mesin pengering buah dan sayur, sehingga kami sewa untuk pengeringan bahan kami. Masalah hadir kembali, ternyata kapasitas mesin cukup besar dan kami harus menunggu waktunya berbarengan dengan penyewa lain. Hal ini dilakukan supaya biaya produksi bisa dibagi dan tidak terlalu tinggi. Dan Sebaliknya justru beberapa kali kami bahkan tidak mendapat slot disaat yang bersamaan karena sudah didahului penyewa lain. Tantangan penyewaan mesin datang silih berganti. Sembari menunggu slot, kami juga harus menyiapkan bahan baku siap dikeringkan. sebuah proses yang tidak bisa ditunda terlalu lama. Namun ketika mesin sedang digunakan oleh penyewa lain dan kami tak mendapat giliran, kami tak punya pilihan selain menunda pengeringan. Untuk menjaga kualitas, kami terpaksa mengangin-anginkan rempah terlebih dahulu. Meskipun cara ini jauh dari kata ideal, setidaknya cukup untuk mencegah pembusukan dan tumbuhnya jamur. Situasi ini mengajari kami untuk selalu siaga dan fleksibel, menjaga bahan tetap layak sambil terus mencari cara agar produksi tak berhenti. Proses yang tidak mudah, penuh tantangan namun perlu dijalani dan dipikirkan untuk mencari solusi yang tepat untuk mengatasi tantangan yang muncul.

Beberapa bulan berikutnya, karena permintaan yang tinggi di masa pandemi. Orderan yang tak henti mengalirkan rejeki yang baik untuk kami dan sebagian kami sisihkan untuk investasi. Investasi kali ini, kami poskan untuk membeli mesin, akhirnya kami bisa membeli mesin pengering sendiri. Ini tidak lepas dari support teman-teman kami yang baik, sehingga kami dikenalkan dengan pembuat mesin pengering custom. Semua ini terasa seperti mimpi bahwa dari keterbatasan, kami bisa terus bertahan dan menemukan arah. Memang belum sempurna, tapi setidaknya satu per satu langkah mulai tertata. Dalam lelah, keraguan, kami terus bergerak menjaga harapan untuk terus bisa menyala. Tak selalu mudah, namun setiap tantangan justru menguatkan keyakinan kami bahwa rempah adalah jalan yang layak diperjuangkan.

Di tahap awal penjualan, kami masih menggunakan metode yang sangat sederhana, mengandalkan pemasaran dari mulut ke mulut. Menawarkan produk ke teman, kerabat, dan orang-orang terdekat. Kemasan pun masih ala kadarnya, label masih foto copyan saja, kemasan sekadar bungkus plastik yang sederhana cukup untuk membawa produk sampai ke tangan pembeli. Saat itu, kami belum memiliki izin edar maupun halal. Jujur saja, kami bingung harus mulai dari mana. Ingin bertanya, tapi tidak tahu ke siapa. Semua serba gelap, perjalanan yang benar-benar hanya meraba-raba. Di awal kami hanya memastikan masalah produk saja, yang penting dalam pikiran kami produk terjual, rasa produk bisa diterima dulu ke konsumen. Kami belum memikirkan hal lain mislakan kemasan maupun ijin. Kami hanya punya konsep bahwa kami ingin memperjuangkan rempah, membuat produk dan memikirkan bagaimana bisa terjual. Kami tidka melakukan riset pasar terlebih dahulu, tapi mimpi dan harapan yang kami bangun dan coba kami wujudkan dalam produk.

Berjalanannya penjualan yang sangat sederhana kami mendapatkan masukkan untuk memperbaiki kemasan, tentunya jadi tantangan baru lagi. Kami harus membeuat kemasan yang menarik supaya konsumen tertarik, ternyata membuat kemasan menarik pun bukan perkara mudah. Ternyata membuat kemasan perlu dana yang cukup. Menjadi masalah baru karena karena kami memiliki keterbatasan biaya, kami juga belum paham arah desain yang sesuai. Banyak hal yang belum kami mengerti, namun satu yang kami tahu pasti: jika ingin melangkah lebih jauh, kami harus mulai membereskan fondasi usaha ini, sekecil apa pun langkah awalnya.

Salah satu titik terang dalam perjalanan kami datang saat itu, kami berkenalan dengan sesama pelaku UMKM. Beliau yang akhirnya juga membeli produk kami. Betapa kami merasa beruntung karena kami mendapatkan banyak masukkan. Perlahan kami mulai memahami hal-hal teknis yang sebelumnya terabaikan mulai dari jenis plastik, ketebalan plastik dan bagaimana harus mengemas. Label yang sebelumnya hanya fotocopyan tak lepas dari masukkan yang diberikan. Saran demi saran kami terima dengan terbuka, untuk perbaikan. Masukkan itu justru yang membangkitkan semangat kami untuk mulai menata segalanya dengan lebih serius. Pelan-pelan, kami belajar bahwa tumbuh bersama orang lain adalah salah satu kekuatan terpenting dalam perjalanan usaha kecil seperti ini. Kesadaran kami tumbuh bahwa kami harus mencari komunitas untuk menggali seluk beluk mengenai UMKM dan tentunya termasuk bagaimana mengemas, legalitas dan pemasaran.

Tugas berikutnya yang harus kami hadapi adalah mencari informasi mengenai legalitas produk. Di tahap ini, kami kembali dihadapkan pada tantangan baru. Sebagai pelaku usaha pemula, kami berharap bisa mendapatkan arahan dari sesama UMKM yang lebih dulu berjalan. Kami sudah masuk salah satu komunitas UMKM namun ternyata tak semudah bayangan kami. Informasi yang kami gali hanya kami dapatkan setengah-setengah. Artinya kami mendapat informasi apa yang kami butuhkan tapi berhenti kembali karena kami tidak tau bagaimana memulai dan harus melakukan apa di awal. Meskipun sudah masuk komunitas namun kenyataannya tak semudah itu. Ego individual masih terasa kuat, masing-masing sibuk dengan usahanya sendiri, dan informasi yang penting seringkali hanya beredar di lingkaran terbatas. Tak banyak yang benar-benar terbuka membagikan pengalaman atau langkah-langkah yang harus ditempuh untuk mengurus izin edar, PIRT, atau halal. Bagi kami, ini menjadi tantangan yang cukup berat. Namun, justru dari kesulitan itulah kami belajar untuk lebih tekun mencari, bertanya ke dinas, menghadiri pelatihan, dan perlahan meraba jalan sendiri. Kami percaya, meski terasa lambat, setiap usaha untuk belajar akan membawa hasil pada waktunya.

Pengalaman itu mengajarkan kami sebuah pelajaran penting: jangan pelit informasi. Kami tahu persis bagaimana rasanya memulai usaha dari titik nol, kebingungan mencari arah, minimnya bimbingan, dan sulitnya mengakses informasi yang sebenarnya sangat dibutuhkan. Dari sana, kami menyadari bahwa tak seharusnya pelaku usaha berjalan sendiri-sendiri. Justru dalam kolaborasi dan keterbukaanlah kekuatan UMKM bisa tumbuh bersama. Maka sejak saat itu, kami berkomitmen untuk selalu terbuka berbagi pengalaman, saling memberi masukan, dan mendukung sesama pelaku usaha. Kami percaya, ketika satu tumbuh, yang lain bisa ikut berkembang dan menjadi penopang satu dengan yang lain. Dan itulah semangat yang ingin terus kami jaga di Yoga Djaya bertumbuh bersama, bukan menjadi besar sendiri.

Tahap selanjutnya dalam perjalanan kami adalah membangun jejaring. Kami sadar, usaha tak bisa tumbuh sendirian. Kami mulai membuka diri, menjalin hubungan dengan sesama pelaku UMKM, berjejaring dengan dinas dan lembaga pemerintah, Universitas serta mulai merambah ke pihak swasta, khususnya dalam hal pemasaran. Setiap pertemuan, pelatihan, hingga ajakan kolaborasi kami anggap sebagai peluang untuk belajar dan memperluas jangkauan. Tak hanya soal menjual produk, tapi juga tentang membangun ekosistem yang saling mendukung. Dari situ, kami belajar bahwa kekuatan usaha kecil bukan hanya pada produknya, tapi pada hubungan yang dijalin pada solidaritas, sinergi, dan saling percaya di antara mereka yang memilih bertumbuh bersama. Kami Mencoba juga untuk membuat sebuah komunitas kecil dari UMKM lintas usaha yang hanya berjumlah 10 orang, semua terdiri dari pengusaha perempuan. Dari kelompok kecil ini kami belajar untuk saling berbagi, saling mendukung dan saling menguatkan satu dengan yang lain. Kami melakukan kegiatan untuk berkembang bersama, membuat kelas belajar, saling menjualkan produk dan saling memberikan informasi positif dalam kelompok. Kami berharap dari embrio kecil yang hanya 10 orang ini, kebiasaan baik bisa ditularkan dimana saja. Dalam anggota sendiri kami sangat support untuk mencari kerjasama seluas-luasanya dengan siapapun dan dimanapun, praktek baik yang sudah dilakukan bisa ditularkan dalam kelompok. Dan tiap anggota bisa secara aktiv mengakses informasi dan memanfaatkan jika memang dibutuhkan untuk perkembangannya saat ini.

Pelatihan-pelatihan yang dibuat mengenalkan kami pada pentingnya pemasaran digital. Apalagi di masa Covid dimana orang minim berinteraksi sehingga pemasaran digital sungguh dirasakan manfaat. Dari hanya status wa maupun melalui IG dan marketplace. Untuk memperkuat pemasaran online Yoga Djaya, kami fokus membangun identitas digital yang konsisten melalui media sosial dengan konten edukatif seputar rempah, gaya hidup sehat, dan kisah di balik racikan tradisional kami. Selain itu kami membangun komunitas untuk belajar rempah, ini menjadi bagian strategi untuk percepatan pengenalan rempah dan rasa memiliki rempah dan kekayaan obat-obatan tradisional. Yoga Djaya menjalin hubungan kemitraan dengan salah satu dosen Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada melalui program Jelajah Wana, sebuah kegiatan edukasi yang memadukan eksplorasi alam dengan pembelajaran tentang tanaman obat dan rempah nusantara. Program ini dirancang untuk memberikan pengalaman langsung kepada peserta dalam mengenal, mengidentifikasi, dan memahami manfaat tanaman herbal yang tumbuh di hutan dan kebun di sekitar masyarakat. Dalam pelaksanaannya, tim Yoga Djaya berbagi wawasan praktis mengenai proses pascapanen, pengolahan, hingga inovasi produk minuman rempah yang bernilai jual tinggi, sementara pihak dosen memberikan penjelasan ilmiah tentang kandungan, khasiat, dan keamanan penggunaan tanaman herbal tersebut. Kolaborasi ini tidak hanya mengedukasi masyarakat dan mahasiswa, tetapi juga menjadi sarana memperkuat citra Yoga Djaya sebagai produsen yang mengutamakan kualitas, keberlanjutan, dan pelestarian kekayaan hayati Indonesia.

Penjualan di marketplace menjadi salah satu strategi utama Yoga Djaya untuk menjangkau konsumen lebih luas, terutama di era digital yang serba praktis. Melalui platform seperti Tokopedia, Shopee, dan marketplace lokal, Yoga Djaya dapat menghadirkan produk minuman rempahnya ke seluruh Indonesia tanpa batasan geografis. Kehadiran di marketplace memudahkan pelanggan menemukan produk, membandingkan varian, serta melakukan pembelian dengan berbagai pilihan metode pembayaran dan jasa pengiriman. Strategi ini didukung dengan foto produk yang menarik, deskripsi yang informatif, serta promosi rutin seperti diskon dan flash sale untuk meningkatkan visibilitas. Penjualan di marketplace tidak hanya menambah volume transaksi, tetapi juga menjadi kanal penting untuk membangun kepercayaan konsumen baru dan memperkuat brand awareness Yoga Djaya di pasar nasional. Tak hanya menjalankan promosi rutin yang menarik di marketplace, kami juga menggandeng komunitas dan influencer lokal, serta menggunakan iklan digital yang tertarget untuk menjangkau lebih banyak pecinta rempah di seluruh Indonesia. Dengan pendekatan ini, Yoga Djaya berharap bisa tumbuh sebagai brand rempah yang kuat, dekat dengan pelanggan, dan terus menghidupkan tradisi sehat dari alam. Support dari Dinas Koperasi DIY juga sangat besar dengan memberikan fasilitas free ongkir. Efeknya cukup bagus untuk membantu konsumen mendapatkan produk Yoga Djaya dan mendapatkan support ongkos kirim.

Di masa pandemi, Yoga Djaya memanfaatkan peluang perluasan pasar dengan dukungan program free ongkir dari dinas koperasi provinsi DIY. Kebijakan ini tidak hanya membantu menjangkau konsumen di kota Yogya saja melainkan juga di luar wilayah Yogyakarta tanpa beban ongkos kirim. Program ini menjadi strategi efektif untuk mempertahankan penjualan dan memperkenalkan produk rempah ke pasar yang lebih luas di tengah pembatasan mobilitas masyarakat. Free ongkir sangat mendukung UMKM yang ada di Yogyakarta, dimasa pandemi dengan aktivitas sangat terbatas, sedangkan kebutuhan tentunya tetap selalu ada dan tidak bisa berhenti. Diluaran banyak konsumen membutuhkan makanan, minuman bahkan barang untuk dibeli, dan kami sebagai produsen membutuhkan alat distribusi barang yang sudah dihasilkan. Sehingga Free ongkir seperti oase baru baik kami sebagai produsen maupun konsumen. Benar-benar kami dimudahkan untuk pendistribusian barang, dan konsumen diuntungkan dengan tidak ada biaya tambahan untuk mendapatkan barang yang dibutuhkan. Dampak dari program ini sangat signifikan penjualan tidak hanya bertahan, tetapi justru meningkat di beberapa wilayah yang sebelumnya belum pernah terjangkau. Pandemi yang awalnya dianggap hambatan, berubah menjadi titik tolak untuk pertumbuhan yang lebih besar, berkat kolaborasi antara pelaku usaha dan dukungan kebijakan pemerintah daerah.
Seiring berjalannya waktu, Yoga Djaya menyadari bahwa perluasan pasar perlu diimbangi dengan penguatan kapasitas internal. Kami merasakan bahwa ini usaha kami belum optimal, bahkan cenderung stagnant. Kondisi ekonomi juga sangat berpengaruh dalam penjualan produk Yoga Djaya. Kami terus mencari apa yang bisa digali dan diperbaiki dari Yoga Djaya. Untuk itu, kami mencoba mencari informasi mengenai program dari Dinas dalam hal ini adalah program inkubasi. Melalui program ini, Yoga Djaya mendapatkan bimbingan dari para mentor membantu kami memetakan potensi pasar, memperkuat branding, serta menyusun strategi ekspansi yang lebih terukur. Program ini cukup lengkap materinya, berupa motivasi bisnis dari para pebisnis yang sukses di Yogyakarta, mendapatkan pendampingan manajemen, pelatihan pemasaran digital, dan akses ke jejaring mitra yang membuka peluang baru kemudian membedah banyak dokumen bisnis dari Yoga djaya. Cukup rumit dititik ini karena Yoga Djaya belum memiliki. Semua yang dimiliki masih sangat sederhana, belum detil dan cenderung seadanya. Kami juga didorong untuk membuat Bisnis Plan, disini kita didorong menghitung kembali HPP dan BEP apakah selama ini harga penjualan sudah benar. Pengalaman ini meski rasanya sangat berat namun tentunya sangat berharga karena membuka wawasan baru dan jejaring dengan sesama pelaku UMKM. Proses inkubasi juga memperkaya wawasan tentang tren konsumen dan inovasi produk sekaligus memperkuat fondasi bisnis Yoga Djaya agar siap bersaing secara nasional.

Perjalanan dari memanfaatkan dukungan free ongkir di masa pandemi hingga mengikuti program inkubasi bisnis menjadi bukti bahwa kolaborasi dan pembelajaran berkelanjutan adalah kunci pertumbuhan. Yoga Djaya kini melangkah dengan visi yang lebih mantap menjadi produsen minuman rempah unggulan. Dengan memperkuat pemasaran digital dan aktif mengikuti program inkubasi dari dinas terkait, Yoga Djaya terus berkomitmen untuk tumbuh sebagai brand rempah yang tak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga adaptif terhadap perkembangan zaman. Dari Inkubasi juga kami memperoleh kesempatan untuk melakukan studi tiru ke Surabaya dan Malang. Kami dibawa ke beberapa tempat baik itu produsen makanan, batik dan juga oleh-oleh terkenal dari Malang. Ini menjadi pengalaman luar biasa karena kita dibawa pada wawasan dan cara pandang baru yang menjadi bahan amunisi perkembangan bisnis Yoga Djaya.

Kami dipertemukan dengan produsen Bronchips Menjadi pelopor pembuatan kripik brownis pertama pemilik Mega Siswindarto dengan brand Mr Froniez. Kami mendapatkan inside yang luar biasa bagaimana perjalanan bisnis untuk melihat rahasia kesuksesan di balik renyahnya kesuksesan Bronchips. Ada 3 hal yang bisa menjadi kunci kesuksesan dalam usaha mereka yaitu inovasi, keberanian mengambil resiko dan strategi distribusi yang tepat dapat membawa bisnis lokal menembus pasar nasional. Tempat Kedua kami dibawa ke Antique Batik Didirikan oleh Trya Febianie point disini kami belajar mengolah bagaimana mengemas inovasi budaya yang sangat cocok dengan Yoga Djaya. Brand dibangun sebagai representasi kebanggaan pada budaya lokal. Kunci keberhasilannya ada pada identitas produk, strategi pemasaran kreatif, konsiten dan selalu berinovasi. Yang ketiga kami belajar dari Malang Strudle yang dimiliki oleh Teuku Wisnu. Mengangkat identitas daerah dengan menggunakan apel menciptakan produk ikonik kota malang, disini kami melihat kunci keberhasilan pada proses pemasaran yang kuat. Bagaimana mereka menggunakan digital marketing secara masif dan mampu menguasai tempat wisata yang strategis. Modal yang kuat memudahkan mereka untuk menjadi sponsor beberapa event-event besar di Malang dan ini menjadi salah satu strategi pemasaran juga.

Dari studi tiru tersebut Yoga Djaya mendapatkan beberapa hal yang bisa dikembangkan Bagaimana kedepan perlu memperkuat Keunikan produk minuman rempah dan mengemas secara modern dengan sentuhan tradisional. Menguatkan story telling tentang warisan rempah nusantara san kesehatan alami yang bisa diwujudkan dalam produk Yoga Djaya. Berani masuk ke pasar nasional lebih dalam dengan bekerjasama dan membangun sistem reseller dan komunitas pencinta rempah nusantara. Merancang peta distribusi yang jelas baik secara online dan offline
Sejak berdiri pada 2019, Yoga Djaya terus tumbuh membawa semangat melestarikan warisan rempah Nusantara melalui inovasi tanpa henti. Dari produk simplisia, serbuk, hingga celup, Yoga Djaya berhasil memperkenalkan minuman rempah dengan sentuhan modern, memperluas pasar dari Yogyakarta ke berbagai kota melalui marketplace dan jaringan distribusi yang semakin luas. Hal inilah yang membuat kami bangga, ada hal yang bisa kami lakukan meskipun itu hanya langkah kecil. Kami membangun Kepercayaan pada publik dengan edukasi rempah dan workshop rempah. Menjadi kebanggaan bagi kami bisa membangun kolaborasi dengan Dosen Fakultas Farmasi UGM dalam program Jelajah Wana, memperkuat riset dan edukasi manfaat rempah. Di tengah tantangan pandemi, Yoga Djaya tidak menyerah, justru berinovasi dan terus tumbuh. Semua pencapaian ini menjadi bukti bahwa Yoga Djaya bukan sekadar produsen minuman, tetapi penjaga tradisi dan kesehatan. Kami juga mendapat 2 kali penghargaan dalam kompetisi yaitu menjadi juara 1 Young Ecocreative Square dari Keuskupan Agusng Semarang oleh MGR. Robertus Rubyatmoko dan menjadi juara 3 terbaik dalam UMKM Award yang dadakan oleh CU Kridha Raharja DIY-Jateng.

Kami akan terus melangkah dengan pasti untuk membawa rempah Nusantara menembus pasar nasional dan internasional. Dan kami meyakini perjalanan yang sudah dipilih dan dilakukan dengan kolaborasi, edukasi, dan inovasi berkelanjutan, serta mengikuti kelas inkubasi yang sudah dilampaui Kami Yoga Djaya semakin tegap melangkah. Kami akan melakukan perbaikan di setiap lini dalam elemen bisnis akan membawa Yoga Djaya makin kuat secara fondasi bisnis. Kami bermimpi dengan penuh pengharapan bisa mengolah bisnis dengan baik, sehat secara bisnis dan tentunya menjadi besar kedepan. Ketika mimpi itu terwujud kami juga bermimpi rempah Indonesia bisa kembali menjadi bagian dari gaya hidup sehat masyarakat modern, yang dipercaya membawa kesehatan alami.